Sabtu, 16 Oktober 2010

Jika Hanya Melihat Ke Belakang

Jika hanya melihat ke belakang, hidup ini seperti pohon saja. Dahulu, kita lahir ke dunia dengan sebab dan cara yang selalu sama, sebab dan cara yang itu-itu juga. Di masa bocah kita bertemu, layaknya cabang-cabang akar pohon yang bertemu di pangkal pokok sang pohon. Kita lalui masa-masa kecil dan masa-masa remaja bersama kita bersama-sama, ibarat sebuah pokok pohon yang menjulang ke atas.
 
Selepas masa remaja, beberapa dari kita mulai berpisah, seperti dahan-dahan pohon, ada yang tumbuh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, dan ke atas.

Memasuki masa dewasa, saat kita sudah selesai dengan pencarian jati diri, kita pun berpisah lagi, seperti cabang-cabang yang berpisah pada sebuah dahan pohon. Ada yang ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, ke atas, ada juga yang patah. Setelah itu, kita masih akan dan terus berpisah, seperti ranting-ranting yang meninggalkan cabang pohon, ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, ke atas, ada pula yang gugur.


Semakin banyak waktu kita lewati, sadarlah kita bahwa kita sudah tidak lagi bersama-sama sebagaimana kita di pokok pohon dulu, sadarlah kita bahwa waktu akhirnya berhasil mencipta jarak. Semakin banyak waktu terentang di belakang kita, semakin kita tak lagi sama, semakin kita banyak berbeda.

 
Karena waktu tak pernah berhenti bekerjalah, pada akhirnya, kita pun mendapati diri kita seperti ujung ranting kering yang sendirian menuding lempang kepada langit biru…..kita menunggu giliran untuk patah diterpa angin perkasa dan jatuh ke tanah………..

………Meskipun tujuan akhirnya sama, sebab dan cara mati selalulah berbeda, dari yang mewah dan heroik sampai sama sekali tak populer.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar